The Video Stars

Kamera VHS di tangan, Uzi menaruh punk stamp di hip-hop.
Teks: Philip Mlynar. Fotografi: Christina Paik. 

Techincally, kami home-less, tapi sekarang kami pindah ke sebuah mansion seharga 1.6 juta dollar di Hollywood Hills,” kata Gave dari Uzi, sebuah tim music-making dan video-producing yang ia jalankan bersama Mike. Duo mononymous ini telah membuat pertumbuhan yang tinggi selama dua tahun belakangan, in-demand raw VHS mereka membuat Uzi berada di backstage bersama Skrillex dan pada private jet bersama Kid Cudi. As they cruise around Los Angeles today; dalam antisipasi pendakian literal mereka terhadap kemewahan, it’s as if they’re playing out a vignette from a feel-good rags-to-riches tale.

Kisah Uzi bermula dengan perpaduan antara entusias muda dan industry happenstance. Gabe (yang tumbuh besar di Los Angeles) bertemu dengan Mike (yang berasal dari Jepang) di universitas di Ohia. Mereka memulai sebauh band dan merekam beberapa video, pertama untuk mereka dan kemudian untuk artis-artis lain. Video-video tersebut, Gabe berkata dengan rendah hati, “menjadi sangat populer.”

Dua kunci event untuk sejarah Uzi: video “Summertime” milik Kreayshawn tahun 2012, dan kontribusi mereka untuk A$AP “Shabba” milik Ferg pada tahun berikutnya. Dilihat bolak-balik, they offer a primer on Uzi’s visual trick. Pesona video lo-fi rumahan yang Kreayshawn lebih-lebihkan di Hollywood Walk of Fame. Momen Uzi di video “Shabba” berakhir, ketika rekaman cerdik membuka jalan bagi Ferg dan teman-teman bergaya seperti video rap era 80an.

Saat menyusun portfolio, Uzi melanjutkan pembuatan short scene kehidupan malam di Los Angeles di sekitar mereka melalui Twitter–5 detik video orang berbicara atau tersandung di luar klub, dikemas kembali melalui lensa kamera JVC VHS. Pekerjaan Gabe dan Mike merangkul ambiguitas dari memori personal dan membuat orang terkenal terlihat playful; saat mereka merekam Riff Raff mengangkat beban, seakan-akan ia sedang mencoba membeli minuman alkohol untuk pesta di bawah umur, mereka menggambarkan Big Sean strolling around di bandara berbicara dengan kamera, brilliantly blase. Tekniknya hampir seperti time traveler, seperti mereka mengambil para subjek kembali pada waktu ketika mereka menonton grainy footeage tentang idola favorit mereka.

Duo ini menekankan bahwa masih ada hasil kerja mereka selain menggunakan trik ini. Mike berkata mereka suka menggunakan peralatan tak terduga, tidak harus retro technology–kamera VHS menjadi sebuah kebetulan yang mereka gunakan saat merekam video-video pada awalnya, katanya. Mereka jarang melihat kembali video-video yang sudah mereka buat. Gabe berkata mereka telah move-on kepada kamera digital Red untuk merekam.

Menganut mental yang selalu bergerak, kreasi Uzi berikutnya fokus kepada kembalinya mereka ke akar music-making dengan rilisnya debut album mereka, VHS World. Mengatakan secara terbuka bahwa musik mereka terdengar “Pop”, Gabe membeberkan bahwa proyek ini akan menampilkan kolaborasi dengan “super A-list artists”. Tapi dalam vusana yang serupa kepada menyandingkan para rapper terbaik dengan teknologi video lowbrow (rendahan), tambahnya, “Kami totally indie sekarang dan kami super anti-establishment. Kami telah menaruh album yang akan dibeli label seharga $500.000 untuk disatukan bersama, tapi kami malah melakukan semua itu sendiri. It’s sort of a ‘fuck you’ to the industry.”


Terjemahan oleh Natasha Sinsoe

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s