The Kids Are Alright

Dengan album Weezer ke-9 yang akan hadir sebentar lagi, Rivers Cuomo berefleksi pada band geek rock-nya di masa lalu–sambil melemparkan frisbee.
Oleh: Lisa Butterworth. Foto: Isa Wipfli.

“Jangan khawatir–Aerobie sangat pemaaf,” kata Rivers Cuomo selagi ia mengoper Frisbee futuristik tersebut. Dikenal sebagai frontman Weezer, ia terlihat keren dalam burgundy corduroys, kemeja kotak-kotak, dan jaket denim, sambil menghabiskan 20 menit berikutnya bermain Frisbee di sekitar taman di Santa Monica yang dapat dicapai dari rumahnya dengan berjalan kaki. Ia bersumpah kalau ia menghargai kesempatan ini–Raja nerd rock berusia 44 tahun ini menghabiskan paginya di radio alternatif KROQ Los Angeles dan akan pergi menuju ke tempat ia berlatih vokal (“Walau rasanya tidak akan ada perbaikan yang berarti,” ia bergurau) sebentar lagi, tapi yang ia inginkan sekarang adalah menghirup udara segar.

Ini bukanlah Cuomo yang saya ekspektasikan, yang dikenal sebagai orang yang selalu tegang, egois, dan sangat canggung. Tapi segala hal telah berubah selama 20 tahun setelah ia muncul di mata publik. Ia telah menikah dan memiliki dua anak (putri yang berusia 7 tahun dan putra yang berusia 2 tahun). Ia menjalani meditasi Vipassana setiap hari yang telah membantunya “mengarungi ombak yang siap menerjang, hal-hal yang menarik, pengalaman menyenangkan, dan yang mengerikan dan menyakitkan.” Dan ia telah belajar untuk melaluinya dengan tawa, ia benar-benar melakukannya, sambil Aerobie berulang kali melewati atas kepalanya.

Tapi beberapa hal tetap sama. Rasanya cocok jika Weezer–yang termasuk di dalamnya gitaris Brian Bell, bassist Scoot Shriner, dan drummer Patrick Wilson–menampilkan single pertama dari album mereka, Everything Will Be Alright in the End, di KROQ. Radio tersebut adalah stasiun pertama yang membuat Weezer menjadi mainstream pada tahun 1994, dan ketika lagu “Back to the Shack” dimainkan, keempatnya seolah kembali ke akar mereka. Ric Ocasek yang merupakan frontman dari band The Cars, yang memproduseri debut album self-titled Weezer (juga dikenal sebagai “the blue album), telah kembali, dan Cuomo menggunakan gitar yang sama, yang menggunakan lightning strap, untuk digunakan dalam merekam LP baru ini. Musiknya sendiri–segala riff gitar yang fuzzy, harmoni yang berat, dan hooks yang gampang diingat–akan mudah disukai para penggemar lama. “Saya merinding setiap kali mendengar (albumnya),” kata Cuomo saat kami duduk di meja piknik sembari bertukar cerita. “Terlihat seperti memiliki banyak eksperimen dan hal baru, tapi ini terdengar seperti hanya Weezer-lah yang mampu melakukannya. Ini seperti kamu menggali lebih dalam ke dalam diri kami, menuju di mana kami berasal dan datang kembali dengan ide-ide baru.” Mereka hadir pada era alternative-rcok 90-an, saat lagu-lagu yang menjadi klasik seperti “Undone-The Sweater Song” dan “Buddy Holly”–yang menampilkan video yang terinspirasi dari Happy Days yang ikonik dan disutradarai Spike Jonze–mendorong mereka mencapai Billboard-charting, dan keberhasilan penjualan multi-platinum.

Tapi saat Weezer terbentuk di Los Angeles tahun 1992, mereka adalah pria-pria yang aneh. “Kebanyakan band pada masa itu memiliki tato dan dreadlocks,” kata Cuomo, membenarkan kacamata Ray-Ban khasnya. “Kami sangat terinspirasi era musik rock sebelum pemakaian drugs seperti pada awal-awal Beatles dan Beach Boys dan tampil dengan gayasuper rapi. Hal tersebut, untuk saya, terasa provokatif.”

Provokatig bukanlah kata yang biasa digunakan untuk mendeskripsikan Cuomo, yang penampilannya sebetulnya tidak seperti seorang frontman. Tapi kekurangannya dalam berpenampilan a la rock-star tertutup oleh hasrat bermusiknya yang dapat kamu dengar dalam setiap lick gitar dan teriakan chorus. Terlebih lagi pada album baru, yang dibuat selama empat tahun. “Saya tahu saya ingin membuat sebuah rekaman yang akan menjadi rekaman favorit saya sepanjang waktu,” kata Cuomo, setelah jeda serius sebelum menjawab setiap pertanyaan. “Jadi, saya tahu kalau hal ini akan memakan waktu.”

Tapi di masa saat ini ketika band cenderung memiliki momen ketimbang karier, waktu adalah hal yang tak terbatas bagi Weezer. “Menurut saya tidak ada salah satu dari kami yang mempertanyakannya, sejenak saja–kami merasa sangat hidup dan begitu banyak hal di alam semesta kita,” kata Cuomo tentang melanjutkan proyek  band. “Ada banyak ruang untuk kami dalam menghadapi tantangan baru dan mencoba hal baru, untuk saya sebagai penulis lagi dan untuk kami sebagai band, selama masih ada kesenangan, teka-teki menarik setiap pagi saya bangun, saya tidak bisa membayangkan mengapa saya harus berhenti.”


Terjemahan oleh Natasha Sinsoe

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s